Image Description

Publikasi

Karya Ilmiah Mahasiswa

Pencarian Spesifik

Pengunjung

Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny. R Di Desa Pekajangan Wilayah Kerja Puskesmas Kedungwuni Ii Kabupaten Pekalongan E-Skripsi UMPP - Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Detail Record


Kembali Ke sebelumnya

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. R DI DESA PEKAJANGAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGWUNI II KABUPATEN PEKALONGAN

Pengarang : Melinda Dwi Aprilliyani, Nina Zuhana, Sandi Ary Susiat

Kata Kunci   : USIA >35 TAHUN, ANEMIA RINGAN, PREEKLAMSI BERAT, SECTIO SESAREA

A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dengan berbagai masalah. Salah satunya yaitu AKI (Angka Kematian Ibu) yang terjadi pada saat kehamilan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, baik sesuai atau tidaknya usia kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan. AKI adalah salah satu indikator keberhasilan dalam upaya kesehatan ibu. Berdasarkan hasil Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) menunjukkan bahwa AKI di Indonesia sudah mengalami penurunan dari 359/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012 menjadi 305/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Namun hal tersebut masih jauh dari salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yang diharapkan pada tahun 2030 yaitu target AKI sebesar 70/100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Provinsi Jawa Tengah tahun 2017 berdasarkan laporan Kabupaten/Kota sebesar 88,58/100.000 kelahiran hidup, dan menurun sekitar 21% dibandingkan tahun 2016 (Dinkes Jateng, 2017). Menurut World Health Organization (WHO), salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu dan janin adalah Preeklamsi, angka kejadiannya berkisar antara 0,51%-38,4%. Preeklamsi merupakan munculnya hipertensi disertai adanya protein urin dan edema setelah kehamilan 20 minggu (Ayu 2017, h.81). Menurut Ratnasari (2019) menunjukkan bahwa hipertensi karena kehamilan tanpa protein urin dengan usia kehamilan < 37 minggu dilakukan pemantauan tekanan darah dengan hasil tekanan darah meningkat, maka hal tersebut merupakan preeklamsi. Salah satu faktor risiko terjadinya preeklamsi yaitu usia >35 tahun. Menurut penelitian Hennyati (2016) menunjukkan bahwa angka kejadian preeklamsi dilihat dari usia ibu paling banyak didapatkan usia >35 tahun yaitu 131 orang (58,2%). Ibu hamil yang terlalu tua atau usia >35 tahun menjadi masalah karena dengan bertambahnya usia ibu maka terjadi penurunan fungsi dari organ yaitu melalui proses penuaan (Margareth 2013, h.37). Penyebab terjadinya penurunan fungsi organ yaitu kadar hormone estrogen mengalami penurunan sehingga mempunyai risiko pada saat kehamilan maupun persalinan antara lain hipertensi dalam kehamilan, persalinan lama, dan perdarahan (Astuti 2017, h. 141). Pada ibu hamil dengan usia >35 tahun juga mempengaruhi kejadian anemia. Hasil penelitian Astriana (2017) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian anemia pada kehamilan karena pada kehamilan usia >35 tahun terkait dengan kemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini, sehingga mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi selama kehamilannya. Meskipun pemerintah telah melakukan peningkatan pemberian tablet Fe sebesar 73,2% sebagai program penanggulangan ibu hamil yaitu dengan memberikan 90 tablet Fe dan asam folat kepada ibu hamil yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu, tetapi kejadian anemia masih tinggi (Kemenkes RI, 2017). Menurut Astuti (2017, h. 141) salah satu komplikasi dari usia lebih dari 35 tahun pada masa persalinan dapat berisiko terjadinya persalinan lama karena kontraksi yang tidak adekuat . Menurut Mochtar (2015, h.31), angka kejadian persalinan lama di Indonesia sebesar 2,8%-4,9%. Hasil penelitian Ardhiyanti (2016) di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dengan 24 responden menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan kejadian persalinan lama sebanyak 31,3%, karena ibu dengan usia > 35 tahun mulai terjadi regresi sel-sel tubuh terutama endometrium sehingga menyebabkan proses kehamilan dan persalinan yang menjadi berisiko. Dari hasil penelitian oleh Indriyani (2016) di RS Siti Fatimah Makasar menunjukkan bahwa faktor anemia ibu hamil <11 gram% mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian persalinan lama. Ibu yang mengalami kejadian anemia memiliki risiko persalinan lama 1,681 kali lebih besar. Persalinan lama berisiko terjadinya persalinan dengan seksio sesarea sebesar 95 % (Andayasari 2014, h.110) . Menurut penelitian Farihatin tahun 2018 di RSU Denisa Gresik dengan 92 responden menunjukkan bahwa sebagian besar (23,9%) ibu dengan kejadian persalinan lama melahirkan dengan cara seksio sesarea. Pada persalinan dengan seksio sesarea, saat masa nifas sangat membutuhkan perawatan luka jahitan post SC (Nurjanah 2013, h.46). Ibu nifas post sc mempunyai risiko terjadinya komplikasi sebesar 13% dibandingkan dengan ibu nifas normal (Sihombing 2017, h.157). Sehingga memerlukan pengawasan meliputi pemeriksaan tanda-tanda vital, pemberian antibiotik dan melakukan mobilisasi agar tidak terjadi komplikasi (Manuaba 2012, h.284-285). Menurut Kemenkes RI (2017, h. 56) Selain masa persalinan dan masa nifas, masa neonatal juga perlu dilakukan asuhan yang tepat untuk mengurangi risiko kematian pada periode neonatal. Bayi baru lahir yang terlahir dari ibu risiko tinggi memiliki risiko antara lain bayi lahir premature, kelainan bawaan, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, infeksi dan kematian (Mangkuji 2014, h. 48). Oleh karena itu, masa neonatal harus dilakukan kunjungan neonatal minimal 3 kali yaitu pada 6-48 jam pertama, 3-7 hari, dan 8-28 hari. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan Tahun 2019 diketahui dari 27 Puskesmas menunjukkan jumlah ibu hamil sebanyak 17.462 orang. Prevelensi rujukan kasus risiko maternal ibu hamil dengan anemia sebanyak 1025 orang (10,3%), usia >35 tahun sebanyak 265 orang (2,66%), dan preeklamsi sebanyak 366 orang (3,68%). Sedangkan jumlah ibu hamil di Puskesmas Kedungwuni II tahun 2019 adalah 966 orang, dengan anemia sebanyak 91 orang (8,87 %), usia >35 tahun sebanyak 5 orang (1,88%), dan preeklamsi sebanyak 16 orang (4,3%). Data ibu bersalin yang diperoleh dari RSUD Kajen didapatkan data pasien yang melakukan persalinan SC pada satu bulan terakhir yaitu pada bulan Desember 2020 sebanyak 83 orang (53%) dari 155 pasien seluruh persalinan, dan data SC dengan indikasi PEB sebanyak 14 orang (9%), serta persalinan lama sebanyak 22 orang (14%). Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk mengambil kasus dengan judul “Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny.R di Desa Pekajangan Wilayah Kerja Puskesmas Kedungwuni II Kabupaten Pekalongan Tahun 2020”


Properti Nilai Properti
Organisasi Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan
Email admin@umpp.ac.id
Alamat Rektorat : Jl. Raya Ambokembang No. 8 Kedungwuni Pekalongan
Telepon (0285) 785179
Fax (0285) 785555
Tahun 2020
Kota Pekalongan
Provinsi Jawa Tengah
Negara Indonesia