Image Description

Publikasi

Karya Ilmiah Mahasiswa

Pencarian Spesifik

Pengunjung

Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny A Di Desa Ambokembang Wilayah Kerja Puskesmas Kedungwuni Ii Kabupaten Pekalongan E-Skripsi UMPP - Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Detail Record


Kembali Ke sebelumnya

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY A DI DESA AMBOKEMBANG WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGWUNI II KABUPATEN PEKALONGAN

Pengarang : Intan Pramesti, Fitriyani, Lia Dwi Prafit

Kata Kunci   :persalinan dengan ketuban pecah dini

Kehamilan merupakan proses alamiah dan fisiologis yang di alami setiap wanita yang memiliki organ reproduksi sehat jika telagh mengalami menstruasi dan melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis yang organ reproduksinya sehat. Kehamilan dapat terjadi perubahan yang bersifat fisiologis dan psikologis (Mandriawati, dkk, 2017, h. 3). Salah satu perubahan pada kehamilan dapat menyebabkan perubahan pada system dinamik, yang di mana volume plasma darah meningkat sehingga terjadi pengenceran darah yang dapat menjadikan anemia pada ibu hamil (Nugroho 2014. h. 26-30). Penanganan anemia yang terlambat dapat menimbulkan resiko gangguan pada kehamilan dan persalinan. Kehamilan anemia sangat erat kaitannya dengan mortalitas dan morbiditas pada ibu hamil dan bayi. Anemia dalam kehamilan merupakan suatu kondisi ketika ibu memiliki kadar hemoglobin kurang dari 11gr% pada trimester I dan III, atau kadar hemoglobin kurang dari 10,5gr% pada trimester II. Perbedaan nilai batas tersebut berkaitan dengan kejadian hemodilusi, dari anemia yang tidak di tangani akan menimbulkan resiko (Pratami, 2016, h.77). Resiko yang dapat muncul pada ibu hamil yang mengalami anemia yaitu perdarahan, abortus, pengaruh dalam persalinan dapat menyebabkan gangguan his, retensio plasenta, atonia uteri, pada masa nifas berpengaruh terjadinya sub involusi uteri, sedangkan pada janin dapat menimbulkan terjadinya kematian intra uteri dan berat badan lahir rendah (Pratami 2016 h.81-82). Upaya untuk mengatasi anemia pada ibu hamil dengan melakukan pelayanan antenatal care pada ibu hamil, karena harus memenuhi frekuensi di tiap trimester yaitu minimal satu kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), minimal satukali pada trimester ke dua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan minimal dua kali pada trimester ke tiga (usia kehamilan 24 minggu hingga menjelang persalinan). Standar pelayanan tersebut untuk mendeteksi dini dan menjamin faktor resiko, pencegahan dan penanganan dini komplikasi kehamilan. Ibu hamil yang rutin memeriksakan kehamilannya akan mendapat konseling tentang kehamilan dan mendapatkan tablet Fe sehingga dilakukan ANC teratur dengan ketaatan konsumsi tablet Fe pada akhirnya akan mencegah anemia (Kemenkes RI 2018, h 113). Pada kehamilan dengan anemia berisiko menyebabkan KPD. Menurut hasil penelitian Desi (2017) anemia memiliki hubungan yang signifikan dengan ketuban pecah dini pada ibu bersalin terjadinya KPD , karena kadar hemoglobin sebagai pembawa zat besi dalam darah berkurang, sehingga mengakibatkan rapuhnya beberapa daerah dari selaput ketuban, sehingga terjadi kebocoran pada daerah tersebut. Menurut Walida (2018) ibu hamil yang memiliki kadar hemoglobin < 11 gr/dl beresiko sebesar 70% mengalami ketuban pecah dini di bandingka dengan ibu hamil yang memiliki kadar hemoglobin > 11 gr/dl beresiko sebesar 40%. Sedangkan KPD adalah komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang bulan, yang dapat mempengaruhi besarnya angka kematian perinatal pada bayi kurang bulan (Norma 2018, h 246). Dampak yang di timbulkan dari KPD yaitu bergantung pada usia kehamilan, menimbulkan infeksi maternal maupun neonatal, persalinan premature, hipoksia karena kompresi tali pusat, diformitas janin meningkatnya insiden seksio sesaria atau gagalnya persalinan normal. Salah satu pencegahan dari gagalnya persalinan normal yaitu dengan melakukan tindakan induksi persalinan yang menurut (Manuaba 2012 h. 85) yang menyatakan bahwa induksi persalinan merupakan untuk menggupayakan kelahiran janin menjelang aterem, dalam keadaan belum ada tanda persalinan atau belum inpartu. Kriteria induksi yang berhasil mempunyai ritme cenderung meningkat sedangkan yang gagal cenderung konstan. Berturut-turut rerata frekuensi dan durasi yang berhasil 4,2 kali/ 10 menit dan 45,09 detik sedangkan pada induksi yang gagal adalah 1,92 kali/10 menit dan 25,54 detik (Shinta dan Melyana 2019). Pemberian induksi yang gagal dalam kehamilan > 37 minggu, dapat di lakukan tindakan seksio sesarea (Prawirohadjo 2014, h. 680). Sedangkan sesksio sesarea merupakan tindakan medis dengan melakukan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding uterus dan dinding perut, vagian atau suatu histerotomi yang bertujuan untuk melahirkan janin di dalam perut ibu (Padila 2015, h. 182). Komplikasi yang dapat terjadi dari tindakan secsio sesarea antara lain infeksi ringan sampai berat, luka kandung kemih, dan emboli paru. Penanganan bila terjadi infeksi adalah dengan pemberian cairan elektrolit dan antibiotik yang adekuat dan tepat agar komplikasi dapat segera teratasi, agar ibu dapat merawat bayinya secara optimal. Karena masa bayi baru lahir dan masa neonatus merupakan masa yang sangat penting dan memerlukan perhatian dan perawatan khusus. Karena pada periode neonatal terjadi transisi dari kehidupan didalam kandungan ke kehidupan diluar kandungan, maka dari itu perlu adanya proses pemantauan ketat. Penanganan bayi baru lahir yang kurang baik dapat menyebabkan kelainan atau gangguan yang mengakibatkan cacat bahkan kematian (Saputra 2014, h.160). Banyaknya resiko komplikasi yang timbul dari tindakan secsio sesarea seperti infeksi ringan sampai berat, luka kandung kemih, dan emboli paru maka di perlukan pemantauan Masa nifas (puerperium) yaitu dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu atau 42 hari setelah persalinan. Pelayanan pasca persalinan harus terpenuhi pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi pencegahan, deteksi dini, pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu (Prawirohardjo, 2014, h. 356). Neonatus merupakan masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari. Terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim menjadi di luar rahim. Pada masa ini, akan terjadi pematangan organ hampir pada semua system organ bayi. Neonatus mengalami perubahan dari kehidupan di dalam rahim yang bergantung pada ibu menjadi di luar rahim yang mandiri. Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24 sampai 72 pertama (2-6 hari) (Putra, 2012, hh. 184-185). Data Dinas Keshatan Kabupaten Pekalongan pada tahun 2019 di ketahui dari 27 puskesmas menunjukan jumlah ibu hamil sebanyak 17.462. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa ibu hamil dengan anemia di Kabupaten Pekalongan sebanyak 1025 (5,86%) . Data di Puskesmas Kedungwuni II pada tahun 2019 jumlah ibu hamil sebanyak 966 dan sebanyak 91 (9,4%) ibu hamil dengan anemia, dari bulan januari 2020 sampai april 2020 jumlah ibu bersalin dengan rujukan sebanyak 69, rujukan dengan KPD sebanyak 22 ( 31%) ibu.


Properti Nilai Properti
Organisasi Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan
Email admin@umpp.ac.id
Alamat Rektorat : Jl. Raya Ambokembang No. 8 Kedungwuni Pekalongan
Telepon (0285) 785179
Fax (0285) 785555
Tahun 2020
Kota Pekalongan
Provinsi Jawa Tengah
Negara Indonesia